Ads Top

SISTEM DRAINASE SUMUR RESAPAN




kali ini saya akan menunjukkan pada anda tentang berapa volume air yang hilang akibat proses pembangunan kawasan perumahan dan sarana publik lainnya seperti jalan raya. Prinsip-prinsip dalam dunia konstruksi biasanya mengalami kontradiksi dengan konservasi sumber daya air, contohnya pada proses pembangunan jalan raya.. Lapisan Surface/Pavement pada jalan raya dibuat dengan tujuan agar air dari luar permukaan langsung dialirkan ke saluran drainase disisi kiri dan kanan jalan sehingga tidak masuk ke dalam struktur perkerasan jalan dibawah pavement. Akibatnya pada musim hujan, air dalam volume yang besar tidak diresapkan kedalam tanah dan langsung dibuang/dilimpaskan ke daerah limpasan. Akibatnya, pada musim hujan akan terjadi masalah banjir di daerah-daerah limpasan dan pada musim kemarau, daerah potensial tadahan air menjadi kekurangan air karena air yg harusnya disimpan sebagai cadangan pada musim hujan langsung dilimpaskan begitu saja. Tanpa banyak berbasa-basi saya akan langsung menunjukkan bagaimana sumber daya air yang seharusnya begitu berharga malah berbalik menjadi sumber masalah yang rutin terjadi..

1. Kehilangan Air Akibat Konstruksi Rumah Tinggal

(Gbr 1 : Denah bangunan rumah tinggal )

Dari gambar diatas diketahui Panjang : 15,00 m dan lebar 10, 00 m.
Luas Bangunan : 10 m x 15 m –> A = 150 m2
Jika Tanah seluas 150 m2 dibebani hujan dengan intensitas (I) : 180 mm/hr , maka jumlah air hujan yang hilang akibat lahan yang tertutup bangunan adalah sebesar:
I = 180 mm/hr
I = 0.18/(24 x 60)
I = 0.000125 m/jam
Jumlah (Volume) air hujan yang hilang sebesar:
V = 0.000125 x 150
V = 0.01875 m3
Jika dalam 1 kawasan hunian terdapat 1000 rumah, maka Volume air yang berpotensi untuk hilang akibat lahan yang tertutup oleh bangunan adalah sebesar :
V lost = 0.01875 m3 x 1000
V lost = 18,75 m3
V lost = 18.750 liter –> Debit air (Q) yang hilang = 18,75 m3/jam = 18.750 liter/jam
Kalau diasumsikan hujan terjadi selama 10 jam, maka volume air yang hilang adalah sebesar :
V lost = 18.750 liter x 10
V lost = 187.500 liter
Sekarang coba kita asumsikan jika hujan tersebut terjadi diaerah (yang seharusnya menjadi daerah ) imbuhan air hujan seperti misalnya kota Bogor.
Dari data didapatkan luas wilayah Kota Bogor sebesar : 118 km2 = 118.500.000 m2 . Kita asumsikan 80% wilayah kota Bogor telah dimanfaatkan untuk bangunan dan fasilitas publik, maka volume air yang yang hilang akibat bangunan dan fasilitas publik adalah sebesar :
V lost = (0,8 x 118.500.000 m2) x 0,000125 m
V lost = 94.800 m2 x 0,000125 m
V lost = 11.850 m3
V lost = 11.850.000 liter –> Debit air (Q) yang hilang = 11.850 m3/jam = 11.850.000 liter/jam
Jika Hujan terjadi selama 5 jam, maka volume air yang hilang adalah sebesar :
V lost = 11.850.000 liter/jam x 5 jam
V lost = 59.250.000 liter
Jika hujan terjadi selama 10 jam, maka volume air yang hilang adalah sebesar :
V lost = 11.850.000 liter/jam x 10 jam
V lost = 118.500.000 liter ~ 119.000.000 liter
Mungkin sebagian dari yang membaca hasil perhitungan diatas menganggap angka-angka diatas tidak terlalu signifikan, tetapi saya katakan bahwa angka-angka tersebut baru mencari volume air yang hilang akibat bangunan (rumah tinggal), selanjutnya akan saya munculkan besar nya volume air yang hilang akibat sarana public, dalam hal ini saya mengambil konstruksi jalan raya antara Bogor-Jakarta.

2. Kehilangan Air Akibat Konstruksi Jalan

 
(Gbr 2 : Potongan melintang Konstruksi Jalan dan Tampak Atas)

Diasumsikan Type jalan adalah : Arteri ; 2 Jalur 2 Arah
Lebar Jalan = 12,00 m
Panjang Badan Jalan ( Bogor-Jakarta ) = 88 km –> 88.000 m
Luas Badan Jalan = 88.000 m x 12 m
A = 1.056.000 m2
Jika Konstruksi jalan tersebut dibebani hujan dengan intensitas (I) = 180 mm/hr –> 0,000125 m/jam
I= 0,000125 m/jam. Berarti tinggi muka air akibat hujan selama 1 jam = 0,000125 m.
Volume air yang hilang (V lost) = 1.056.000 m2 x 0,000125 m
V lost = 132 m3
V lost = 132.000 liter
Equivalent dengan Debit air (Q) yang hilang = 132 m3 /jam –> 132.000 liter/jam.
Jika hujan yang terjadi selama 10 jam, maka volume air yang hilang adalah sebesar :
–> V lost = 132.000 liter/jam x 10 jam
–> V lost = 1.320.000 liter
Direncanakan penggunaan sumur resapan untuk mengimbuhkan air hujan kedalam tanah, diasumsikan dimensi sumur resapan yang akan dipergunakan adalah : diamater (d) : 40 cm dan tinggi (h) : 100 cm.
Volume Sumur Resapan = (1/4 x phi x d^2) x h
Volume Sumur Resapan = (1/4 x 3,14 x 0,4^2) x 1
Vol’ Sumur = 0, 1256 m3 ~ 0,126 m3
Vol’ Sumur = 126 liter …………………………………………………………. Cara (1)
Cek dgn Rumus Volume Silinder –> V= phi x r^2 x h
Volume Sumur Resapan = 3,14 x 0,2^2 x 1
Vol’ Sumur = 0, 1256 m3 ~ 0,126 m3
Vol’ Sumur = 126 liter …………………………………………………………. Cara (2)
Kontrol –> Cara (1) dan Cara (2) hasilnya sama : 0,126 m3 = 126 liter –> Ok..!!
Jika volume hilang air hujan akibat perumahan dan akibat jalan dijumlahkan, maka total volume air hujan yang hilang akibat hujan selama 10 jam adalah sebesar :
V lost = (119.000.000 liter + 1.320.000 liter)
V lost = 120. 320.000 liter, jika dalam meter kubik (m3) –> V lost = 120.320 m3
Jumlah Sumur Resapan yang dibutuhkan sepanjang 88 km :
n = (120. 320.000 liter /126) / 88
n = 10.851,37 ~ 10.852 buah
Jika sumur resapan akan dipasang pada saluran drainase sisi kiri dan sisi kanan jalan, maka pada saluran drainase kiri dipasang 5.426 buah sumur resapan dan dibagian kanan juga 5.426 buah.
Jarak antar sumur resapan (s) = 88.000 m / 5.426 buah
s = 16, 22 ~ 16,20 meter
–> Jadi sumur resapan dipasang dengan jarak antar sumur (s) : 16,20 meter.
Saya sempat berhenti sejenak ketika melihat angka-angka diatas, Saya yakin anda mengerti maksud saya, hanya dengan durasi hujan 10 jam saja, volume air yang akan dilimpaskan ke Jakarta sudah sebesar : 120. 320.000 liter (120.320 m3) . Pertanyaan yang muncul di otak saya adalah :
  • Bagaimana jika daerah-daerah tangkapan air hujan yang lain (selain Bogor) juga ikut “mengirimkan” air limpasan dengan volume yang (mungkin) lebih besar ke Jakarta..?
  • Bagaimana jika volume air limpasan dari daerah-daerah tangkapan air hujan yang lain juga dimasukkan sebagai variabel dalam perencanaan sistem drainase sumur resapan part II ini..?
  • Bagaimana jika hujan di daerah-daerah imbuhan/tangkapan air terjadi selama 1 hari penuh (24 jam)..? Bagaimana jika hujan terjadi selama 2 hari penuh (48 jam)..? Tentu Volume air yang akan “dikirim” Jakarta akan jauh lebih besar..
Tapi untuk menjawab 3 pertanyaan diatas tentu tidak sesederhana yang dibayangkan, butuh variabel-variabel data yang akurat dan proses perhitungan/perencanaan yang lebih kompleks tentunya.. :-)
Hasil dari perhitungan-perhitungan (perencanaan) diatas, selanjutnya di integrasikan dalam bentuk gambar seperti gambar dibawah ini :

 

Gbr3 : Konstruksi Jalan–Potongan melintang, tampak atas , penempatan sumur resapan dan dimensi)


Pada proses perencanaan diatas, saya menyebutkan kota Bogor sebagai daerah imbuhan (tangkapan) air hujan, dan Jakarta sebagai kota limpasan. Pertanyaan yang muncul dari hal tersebut adalah, apakah perencanaan diatas dapat dijadikan solusi mengatasi masalah banjir yang belakangan sering melanda kota Jakarta? Jawaban saya adalah : Kota Jakarta sendiri berhadapan dengan bahaya banjir akibat beban guyuran air hujan yang melanda kota tersebut. Selain itu, masalah lain kota Jakarta adalah kondisi tanah dan topografi daerah yang berbentuk cekungan. Untuk masalah ini, tentunya perencanaan diatas tidak dapat dipergunakan sebagai solusi..Apakah ada solusi yang lain..?? Yah tentu saja ada, karena solusi masalah berkaitan dengan hal-hal yang bersifat teknis..dan setiap insinyur dan perencana diarahkan dan dikondisikan untuk selalu bisa menyelesaikan masalah-masalah teknis.

Untuk masalah banjir di Jakarta yang diakibatkan karena topografi daerahnya yang berbentuk cekungan, solusi yang mungkin adalah sistem drainase pipa resapan atau dengan membuat sistem kanal banjir seperti yang sudah ada saat ini. Tetapi sistem kanal banjir juga harus didukung oleh perilaku masyarakat untuk tertib menjaga kebersihan lingkungan, yaitu tidak membuang sampah ke daerah kanal banjir yang aslinya diperuntukkan sebagai sistem drainase pencegah banjir.

Sementara perencanaan sistem drainase sumur resapan diatas dimaksudkan hanya untuk mengurangi volume air hujan kiriman dari daerah imbuhan seperti Bogor ke daerah limpasan seperti Jakarta, yang mana selama ini dianggap bahwa banjir di kota Jakarta terjadi akibat air hujan kiriman dari daerah-daerah tangkapan /imbuhan di kota-kota sekitarnya.

Diakhir tulisan ini, saya kembali menekankan bahwa angka-angka hasil perhitungan diatas bukanlah hasil yang absolut. Kenapa saya katakan demikian? karena variabel-variabel yang dipergunakan mungkin saja kurang lengkap dan dapat berubah. Seperti prosentase penggunaan lahan sebagai area imbuhan air hujan, dimensi jalan raya, intensitas hujan, durasi hujan, dimensi sumur resapan yang akan dipergunakan, ketelitian saat menghitung angka-angka (saya sendiri juga tidak yakin apa hitungan-hitungan diatas sudah teliti atau belum), dsb. Satu hal yang bisa saya pastikan pada anda semua adalah, variabel-variabel yang dipergunakan dalam proses perencanaan sistem drainase sumur resapan dapat saja berubah, dirubah, atau dimodifikasi.. Tetapi prinsip perencanaan nya adalah seperti yang sudah yang saya tunjukkan diatas.

Merencanakan Kamar Mandi Dengan Konsep Terbuka (Open Air Bathroom)

Akhirnya, saya hanya bisa berkata : semoga tulisan saya hari ini bisa memberikan sedikit manfaat pada kita semua. Tidak ada motifasi apapun dibalik tulisan saya kali ini, bukan bermaksud “menggugat” ataupun “menggurui” , saya pribadi pun masih harus banyak belajar..Karena pemilik ilmu yang hakiki adalah “Dia”.. Allah, Zat yang maha tinggi lagi maha bijaksana..


Tahukah ada bahwa desain kamar mandi tak melulu berupa ruangan segi empat yang berisi bak mandi dan closet? Ada banyak desain kamar mandi yang bisa menjadi pilihan anda saat ini, bahkan ada desain kamar mandi yang mendekati suasana kampung alias pedesaan. Berubahnya desain kamar mandi mengiringi perubahan gaya hidup serta kebutuhan. Bagi anda yang tinggal di kawasan perkotaan yang padat, rasanya tidak berlebihan jika anda membutuhkan sebuah tempat yang nyaman sekedar untuk mengasingkan diri dan bersantai sejenak.
Kamar mandi bisa menjadi pilihan anda, tentunya dengan terlebih dulu mendesainnya sesuai dengan konsep yang anda inginkan. Jika kamar mandi adalah tempat yang paling pas bagi anda untuk bersantai dan melepas lelah, maka anda harus membayangkannya sebagai tempat yang paling nyaman dalam rumah anda. Bayangkan jika anda sedang bersantai dan rileks dengan mendengarkan suara gemericik air dan semilirnya angin segar yang merembes masuk ke kamar mandi anda. Anda bisa mengkonsepkan kamar mandi idaman anda dengan memanfaatkan suasana alam tropis yang hangat dengan penataan bahan-bahan alami berupa kayu atau batuan alam.
Anda bisa membuat kamar mandi yang terbuka atau setengah terbuka dengan penataan taman tropis di dalamnya. Suasana segar dan nyaman ini bisa mendukung aktifitas relaksasi anda. Keuntungan dari kamar mandi model terbuka (open air bathroom) adalah suasana yang ditimbulkan ketika mandi adalah serasa mandi di alam, dan pastinya terasa lebih segar. Kamar mandi dengan konsep open air bathroom memungkinkan sirkulasi udara sangat bebas mengalir masuk kedalam wilayah kamar mandi. Kesegaran ketika kita mandi akan melepaskan kita dari stress akibat rutinitas sehari-hari. Selain itu juga dapat memberikan keseimbangan bagi tubuh maupun pikiran.
Pada kamar mandi dengan konsep open air bathroom suasana alam bener-benar terasa, jika siang sinar matahari langsung masuk kedalam area kamar mandi, jika malam sinar bulan dan udara malam membuat kamar mandi terasa dingin dan jauh dari kesan sumpek. Area luar dan dalam bangunan seperti menyatu tanpa adanya pembatas, karena kamar mandi dengan konsep open air bathroom kebanyakan dibuat tanpa atap. Beberapa private residence atau villa menggunakan kamar mandi dengan konsep open air bathroom untuk meningkatkan eksotisme bangunan dan kesan homey pada bangunannya.
Berikut beberapa hal yang bisa dipertimbangkan dalam merencanakan kamar mandi dengan konsep terbuka (open air bathroom):
  • Penataan ruang dan pengisi ruang kamar mandi dibuat simple dan tidak terkesan kaku layaknya kamar mandi konvensional.
  • Kerapian penataan aksesoris harus tetap terjaga, sediakan wadah-wadah kecil (toiletress) untuk perlengkapan mandi seperti sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi dan sebagainya.
  • Kombinasi warna dengan menggunakan dua atau tiga warna saja, kombinasi warna ini akan menghadirkan kesan netral, monokromatis bahkan elegan. Pertimbangkan komposisi warna alami atau motif alam seperti warna coklat kayu, hijau daun, putih kekuningan seperti pasir.
  • Selain kombinasi warna perhatikan pula tekstur yang timbul dari penggunaan bahan untuk lantai, dinding, langit-langit dan sanitari beserta aksesoris lainnya.
  • Penggunaan material dapat dipilih material yang teksturnya agak kasar seperti material batu alam (paras, batu candi, dsb), kayu, bambu, bata ekspose, gerabah, dsb. Kesan tenang dihadirkan melalui warna-warna alami/natural dan bentuk yang tidak rumit.
  • Gunakan elemen sanitair sebagai salah satu daya tarik. Upayakan elemen lain sebagai pendukung sehingga komposisi menjadi menarik. Biasanya bak mandi dan shower yang ditanam didinding kamar mandi (wall mounted shower) dipakai sebagai salah satu daya tarik, dengan memberikan hiasan pada dinding, pencahayaan spot light, atau pernak-pernik lainnya seperti kerikil, peebles, pijakan kaki dari mortar, gentong air+gayung dari batok kelapa, pot tanaman dari gerabah dan diisi tanaman seperti talas, dsb.
  • Pencahayaan baik buatan maupun alami merupakan salah satu hal yang penting dalam perencanaan kamar mandi konvesnional maupun open air bathroom. Jika memungkinkan kamar mandi haruslah mendapat terang matahari sepanjang hari dan setelah gelap harus memenuhi persyaratan pencahayaan buatan yang fungsional. Jika konsepnya open sky bathroom, gunakan kaca sebagai pengaman namun tetap mendapatkan cahaya rembulan diwaktu malam. Tambahkan pencahayaan buatan dari lampu pada sudut atau titik tertentu untuk mengantisipasi jika intensitas cahaya dari alam dirasakan kurang.
Untuk mendapatkan kamar mandi dengan suasana yang terbuka, alami namun tetap menyatu dengan ruang lainnya, kita bisa menempatkan kamar mandi dengan konsep open air bathroom dibagian tengah rumah. Kamar mandi dengan konsep terbuka bisa saja digabungkan dengan taman didalam rumah, kamar mandi dan taman ditengah rumah bisa disatukan dengan kamar tidur utama. Atau kamar mandi dengan konsep open air bathroom+walk in closet disatukan dengan kamar tidur utama, kemudian inner courtyard disatukan dengan great living room tempat dimana keluarga besar biasanya berkumpul.
Bisakah anda membayangkan bagaimana nyamannya? Jika anda ingin memposisikan kamar mandi dengan konsep open air bathroom menyatu dengan kamar tidur, perhatikan aspek keamanannya. Kalau bisa ada pintu yang kontrol buka-tutupnya dari dalam kamar tidur anda. Anda bisa membuat ruang penghubung antara kamar mandi dengan kamar tidur, misalnya menempatkan walk in closet atau storage diantara kamar mandi dan kamar tidur anda.
Kekurangan kamar mandi dengan konsep open air bathroom yang paling utama adalah dari sisi keamanan. Konsep open air bathroom adalah kamar mandi betul-betul dibuat tanpa atap sama sekali. Sehingga dikhawatirkan ada pihak atau orang lain yang mencoba masuk kedalam rumah tanpa sekehendak pemilik rumah. Ini yang harus dipertimbangkan ulang. Apakah murni tanpa atap? Atau menggunakan atap tembus pandang sehingga kesan terbuka tetap ada tetapi keamanan juga dipertimbangkan (open sky bathroom), menggunakan teralis atau kisi-kisi kayu pada bagian atas kamar mandi sebagai pengaman, atau meletakkan area kamar mandi diluar dari rumah induk sehingga privasi dan keamanan penghuni rumah tetap terjaga.
Selain masalah kemanan masalah kebersihan juga harus diperhatikan, karena sifatnya yang terbuka maka beraneka organisme mungkin bisa masuk kedalam area kamar mandi, misalnya: semut, aneka serangga lain, nyamuk, tikus, dsb. Konsekwensi dari kamar mandi dengan konsep open air bathroom ini adalah anda harus membersihkan kamar mandi dan penampungan airnya lebih sering dibanding kamar mandi tertutup.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.